<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="10099">
 <titleInfo>
  <title>Pergeseran Makna Cancel Culture di Indonesia :</title>
  <subTitle>Analisis Semiotika Sosial Theo Van Leeuwen</subTitle>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>Viola Athaya Andriana</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>Alvina Tanuwijaya Prasetyo</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text">Jakarta</placeTerm>
   <publisher>LSPR</publisher>
   <dateIssued>2025</dateIssued>
  </place>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code">id</languageTerm>
  <languageTerm type="text">Indonesia</languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Text</form>
  <extent></extent>
 </physicalDescription>
 <note>Perkembangan teknologi telah memunculkan platform media sosial dimana orang dapat mengekspresikan pendapat, yang membentuk munculnya cancel culture, sebuah fenomena di mana individu atau merk mengalami kemarahan publik, boikot, atau pengucilan karena dianggap melakukan kesalahan fatal atau melanggar norma sosial. Fenomena yang awalnya didasarkan pada tanggung jawab moral, telah berubah menjadi gerakan sosial yang lebih luas dengan motif beragam. Penelitian ini menganalisis pergeseran makna cancel culture dengan pendekatan semiotika sosial dari Theo van Leeuwen, yang menekankan empat aspek utama: discourse, genre, style, dan modality. Metode penelitian kualitatif digunakan dengan teknik pengumpulan data berupa wawancara, untuk memahami bagaimana makna cancel culture dibentuk dan digunakan dalam interaksi sosial di media digital khususnya di Indonesia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, cancel culture sering kali didorong kecenderungan untuk mengikuti tren dan fear of missing out (FOMO) atau takut tertinggal, daripada memahami konteks masalah yang terjadi. Ditemukan juga bahwa, teknologi semakin sering dimanfaatkan untuk memajukan kepentingan komersial, politik, ekonomi, atau pribadi. Melalui penelitian ini dapat disimpulkan bahwa cancel culture telah bergeser dari pernyataan moral kolektif menjadi instrumen taktis untuk membentuk narasi digital dan memengaruhi opini publik. Transformasi ini menyoroti hubungan antara media sosial, dinamika kekuasaan, dan standar budaya, yang mengungkap kelebihan dan kekurangan budaya pembatalan dalam masyarakat digital kontemporer.&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Kata Kunci: Budaya Pembatalan, Pergeseran Makna, Semiotika Sosial, Theo van Leeuwen</note>
 <note type="statement of responsibility"></note>
 <subject authority="">
  <topic>kualitatif</topic>
 </subject>
 <subject authority="">
  <topic>Viola Athaya Andriana</topic>
 </subject>
 <subject authority="">
  <topic>Digital Communication and Media Management</topic>
 </subject>
 <subject authority="">
  <topic>2025</topic>
 </subject>
 <subject authority="">
  <topic>Non Thesis - Professional Seminar</topic>
 </subject>
 <subject authority="">
  <topic>Alvina Tanuwijaya Prasetyo</topic>
 </subject>
 <subject authority="">
  <topic>Dr. J.A. Wempi</topic>
 </subject>
 <classification>NONE</classification>
 <identifier type="isbn"></identifier>
 <location>
  <physicalLocation>Library LSPR Institute of Communication and Business Amani Library Management System</physicalLocation>
  <shelfLocator>S2.DCMM.003.25</shelfLocator>
  <holdingSimple>
   <copyInformation>
    <numerationAndChronology type="1">S200049TP</numerationAndChronology>
    <sublocation>Hanya Tersedia Softcopy</sublocation>
    <shelfLocator>S2.DCMM.003.25</shelfLocator>
   </copyInformation>
  </holdingSimple>
 </location>
 <slims:digitals/>
 <slims:image>sampul_skripsi.jpg.jpg</slims:image>
 <recordInfo>
  <recordIdentifier>10099</recordIdentifier>
  <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2026-01-27 14:42:45</recordCreationDate>
  <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2026-01-28 14:44:57</recordChangeDate>
  <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
 </recordInfo>
</mods>
</modsCollection>